Bagaimana Penerapan New Normal di Tempat Ibadah

Penerapan New Normal
Penerapan New Normal Tempat Ibadah


Memosaqee.com (06/10) Kehadiran Virus Corona di tengah-tengah masyarakat Indonesia memengaruhi berbagai aktivitas yang terjadi di masyarakat diantaranya dalam bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan, pariwisata, industri, dan tidak lupa dalam sektor keagamaan. Hal ini menyebabkan kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilangsungkan secara berjamaah atau bersamaan harus diminimalisir guna mengurangi intensitas penyebaran virus Corona yang mewabah secara masif di masyarakat.

Untuk mengatasi permasalahan ini pemerintah mengeluarkan regulasi pada masa new normal atau kenormalan baru yang mengatur aktivitas ibadah pada masa pandemi Covid-19. Peratutan itu termuat di dalam Surat Edaran Menteri Agama No. 15 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman dari Covid-19 di Masa Pandemi.

Panduan yang diterbitkan pemerintah itu mengatur kegiatan keagamaan inti dan kegiatan keagamaan sosial di rumah ibadah berdasarkan situasi riil pada masa pandemi Covid-19 di lingkungan sekitar tempat ibadah tersebut, bukan hanya berdasarkan status zona daerah.

Penerapan pola perilaku baru di era new normal terhadap sektor keagamaan ini bukan berarti melarang adanya aktivitas keagamaan di lingkungan masyarakat. Aktivitas keagamaan tetap dapat berjalan dengan normal tapi dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan guna mencegah penularan virus Corona dan mengantisipasi munculnya klaster-klaster baru penyebaran virus di tepat ibadah. Justru sebaliknya, rumah ibadah haruslah menjadi acuan atau contoh terbaik terhadap upaya pencegahan tersebarnya Covid-19.

Perihal perizinan pelaksanaan kegiatan keagamaan atau kegiatan ibadah yang dilakukan secara berjamaah di rumah ibadah, hanya diberikan pada rumah ibadah yang sudah mendapat Surat Keterangan Rumah Ibadah Aman Covid-19 dari Ketua Gugus Tugas Penanganan covid-19 tingkat provinsi/kabupaten/kota/kecamatan sesuai dengan lokasi dan tingkatan rumah ibadah berdasarkan hasil koordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, instansi terkait, dan organisasi keagamaan.

Syarat utama untuk mendapatkan surat keterangan aman tersebut adalah dengan catatan rumah ibadah tersebut sudah menerapkan protokol kesehatan di dalamnya, termasuk melakukan disinfeksi secara berkala, menyediakan tempat cuci tangan, membatasi jumlah orang keluar masuk, mengecek suhu orang yang masuk, dan membatasi jarak antaranggota jemaah.

Sanksi akan diberikan pada rumah ibadah yang melanggar dan tidak menerapkan protokol kesehatan. Sanksi berupa pencabutan surat keterangan aman dari Covid-19. Surat Keterangan juga akan dicabut bila dalam perkembangannya timbul kasus penularan di lingkungan rumah ibadah tersebut. Tujuannya diadakan sanksi bagi para pelanggar adalah agar pengurus rumah ibadah juga ikut proaktif dan bertanggungjawab dalam menegakkan disiplin penerapan protokol covid-19.

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2020 terdapat 9 kewajiban Jemaah dan 11 kewajiban pengurus rumah ibadah yang harus dipatuhi.

Kewajiban Jemaah

Jemaah dalam kondisi sehat; Meyakini bahwa rumah ibadah yang digunakan telah memiliki surat keterangan aman Covid-19 dari pihak yang berwenang; Menggunakan masker/masker wajah sejak keluar rumah dan selama berada di area rumah ibadah; Menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer; Menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan; Menjaga jarak antarjemaah minimal satu meter; Menghindari berdiam lama di rumah ibadah atau berkumpul di area rumah ibadah, selain untuk kepentingan ibadah yang wajib; Melarang beribadah di rumah ibadah bagi anak-anak dan warga lanjut usia yang rentan tertular penyakit, serta orang dengan sakit bawaan yang berisiko tinggi terhadap Covid-19; Ikut peduli terhadap penerapan pelaksanaan protokol kesehatan di rumah ibadah sesuai dengan ketentuan.

Kewajiban Pengurus Tempat Ibadah

Menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah. Melakukan pembersihan dan desinfeksi secara berkala di area rumah ibadah. Membatasi jumlah pintu/jalur keluar masuk rumah ibadah guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan. Menyediakan fasilitas cuci tangan/sabun/hand sanitizer di pintu masuk dan pintu keluar rumah ibadah. Menyediakan alat pengecekan suhu di pintu masuk bagi seluruh pengguna rumah ibadah. Jika ditemukan pengguna rumah ibadah dengan suhu > 37,5°C (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan memasuki area rumah ibadah. Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus di lantai/kursi, minimal jarak satu meter. Melakukan pengaturan jumlah jemaah/pengguna rumah ibadah yang berkumpul dalam waktu bersamaan, untuk memudahkan pembatasan jaga jarak. Mempersingkat waktu pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi ketentuan kesempurnaan beribadah. Memasang imbauan penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah pada tempat-tempat yang mudah terlihat. Membuat surat pernyataan kesiapan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditentukan. Memberlakukan penerapan protokol kesehatan secara khusus bagi jemaah tamu yang datang dari luar lingkungan rumah ibadah.

 

0 Response to "Bagaimana Penerapan New Normal di Tempat Ibadah"

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak sesuai isi dari artikel yang telah anda baca di blog ini.